Rumah Regina

"Home is where the heart can laugh without shyness. Home is where the heart's tears can dry at their own pace."

Masih Ada

Entah kapan terakhir kalinya ia merasakan kehidupan di sini. Panjang ingatannya tak lagi mampu menghitung lamanya waktu sejak kehidupan menghilang. Sudah terlalu lama. Namun meski waktu tak lagi terhitung, setiap kejadian, setiap kisah terpatri lekat dalam memorinya.

Ada banyak cerita yang hanya ia yang tahu. Cerita yang tak pernah sanggup sang empunya menceritakannya pada siapapun. Namun ia tahu, dan ia akan menyimpannya rapi untuk dirinya sendiri, hingga sang empunya siap berkata-kata.

Setiap kejadian, setiap kisah yang terjadi, ia tahu, membuat sinar kehidupan meredup bagaikan lilin yang perlahan ditiup. Sang empunya hidup, namun tidak benar-benar hidup. Ada, namun tidak benar-benar ada. Secara lahiriah sang empunya berdiam di sini, tapi tidak batiniah.

Dan tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri, mendengarkan dalam senyap setiap cerita sang empunya yang tak terkatakan, melihat dalam gelap setiap tetes air mata yang mengering, ikut merasakan dalam kesesakan sakit sang empunya yang tak terperi. Tapi di sinilah ia, dengan setia menaungi sang empunya, dengan sabar menunggu sang empunya kembali pulang.

Waktu berlalu, kehidupan perlahan kembali dirasa, terang kembali muncul. Kehidupan pun tak lagi enggan untuk mendekat. Ada keceriaan yang mulai terlihat di wajah sang empunya. Ya, sang empunya kembali hidup. Ada, dan benar-benar ada. Hidup, dan benar-benar hidup.

Impian, mimpi, dan harapan kembali dipanjatkan dalam setiap doa sang empunya. Tawa dan canda kembali terdengar. Cinta kembali bersemi. Ia pun ikut bersukacita. Dan ia tahu, bahwa suatu saat nanti penantian dan kesetiaannya akan mebuahkan hasil, karena sang empunya masih ada dan akan kembali pulang kepadanya, sang rumah.

Iklan

Where She Went

Mia ternyata memilih untuk tinggal. Dan itu atas permintaan Adam, kekasihnya. Adam berjanji bahwa dia akan melakukan apa saja jika Mia hidup, bahkan apabila nantinya Mia menghendaki untuk meninggalkannya jika, dia rela. Dia akan melepaskan Mia.

Dan Mia melakukannya. Dia meninggalkan Adam dan melanjutkan sekolahnya di Juilliard, hingga menjadi seorang cellist profesional.

Jika “If I Stay” ditulis berdasar pada sudut pandang Mia, maka “Where She Went” ditulis berdasar pada sudut pandang Adam. Tiga tahun sudah setelah kepergian Mia, dan Adam berada dalam keadaan yang terluka. Meski grup band-nya, Shooting Star, kini telah naik pamor dan terkenal, Adam justru merasa semakin hancur.

Baca entri selengkapnya »

If I Stay

Bagaimana jika seandainya kau terjebak antara hidup dan mati? Pilihan mana yang akan kau ambil: Hidup namun kau telah kehilangan segalanya, atau mati dan ikut bersama orang-orang yang kau sayangi?

Mia memiliki segalanya; orang tua yang penuh pengertian dan kasih sayang, adik laki-laki berusia 8 tahun yang imut, seorang sahabat setia, dan seorang kekasih yang penuh cinta. Di usianya yang ketujuh belas, Mia merupakan seorang cellist berbakat dari Oregon dan memiliki masa depan cemerlang saat dia diterima di sebuah sekolah musik ternama, Juilliard.

Namun sebuah kecelakaan yang menimpa Mia dan keluarganya membuat dia harus kehilangan orangtua dan adiknya dalam sekejap. Mia berada dalam keadaan koma dan selama itu dia melihat semua kejadian yang menimpa dirinya. Seperti hantu, dia berada di dunia tapi tidak benar-benar hidup. Dan selama itu, semua kenangan-kenangan indah akan keluarga, sahabat dan kekasihnya menghiasi kisah dalam buku ini – yang juga nantinya menjadi bagian dalam keputusan Mia. Akankah dia bertahan hidup atau mengikuti keluarganya?

Baca entri selengkapnya »

Kala Usia Tidak Lagi Kanak-kanak

Beberapa hari yang lalu, saya menemani seorang teman pergi menjemput anak perempuannya di sebuah Taman Kanak-kanak. Hari itu langit cerah setelah selang beberapa waktu hujan terus mengguyur kota tempat saya tinggal. Matahari bersinar tanpa malu-malu, seolah ingin membalas dendam setelah beberapa hari tertutup awan kelabu. Sinarnya terik dan menyengat kulit. Namun bagi anak-anak yang berusia 4 – 5 tahun ini, cuaca yang panas seperti itu malah menambah semangat bermain mereka.

Saat kami tiba, pelajaran telah selesai dan anak-anak sudah berada di halaman sekolah, menunggu jemputannya masing-masing. Mereka bergabung dalam kelompok-kelompok; ada sekumpulan anak yang berkerumun memerhatikan seorang temannya memamerkan mainan barunya, ada kelompok penyanyi cilik yang penuh percaya diri bernyanyi – meskipun nyanyiannya lebih menyerupai teriakan khas anak kecil, dan ada juga yang memilih bermain ayunan, perosotan, dan berbagai macam permainan lainnya. Semuanya bersuka ria, penuh canda tawa.

Baca entri selengkapnya »

Welcome 2012

Pukul 12 tepat. Langit seketika berubah terang benderang, dipenuhi berbagai warna cerah di segala penjuru. Udara dipenuhi bau belerang yang menyesakkan, namun mampu menyisipkan rasa haru ke dalam paru-paru. Di kejauhan, samar terdengar bunyi lonceng gereja yang didentangkan sebanyak 100 kali (entahlah, saya tidak pernah menghitungnya.) Juga suara sebuah kapal yang membunyikan klaksonnya (eh, kapal punya klakson ya?)

Malam pergantian tahun selalu berlangsung dengan cara yang sama; suara petasan, warna-warni kembang api, musik yang berdentam-dentam dari pengeras suara yang dipasang di jalan-jalan, dan orang-orang yang teler hingga pagi. Dan bagi saya dan keluarga, pergantian tahun juga selalu dirayakan dengan cara yang sama, yaitu tinggal di rumah, menonton orang-orang menyalakan kembang api – yang menurut orang tua saya adalah cara tepat menghabiskan uang dengan membakarnya, salam-salaman, lalu tidur. Lagipula, membayangkan bakal terjebak macet selama berjam-jam membuat ide untuk tinggal di rumah jadi terdengar sangat, sangat menyenangkan.

Baca entri selengkapnya »