Melepas Harapan

by Regina

ImageHidup tanpa harapan sama saja seperti mati. Begitu kata orang kepada saya. Saya bukannya tidak punya harapan sama sekali dalam diri. Saya masih punya itu. Hanya saja sekarang saya belajar untuk memilah mana harapan yang bisa saya pertahankan dan perjuangkan, dan mana yang harus saya kubur dalam-dalam.

Kamu. Adalah harapan yang tidak bisa saya pertahankan. Dengan berat hati harus saya kunci rapat dalam kotak pandora dan saya letakkan di tepian hati. Sewaktu-waktu akan saya buka demi untuk melihat kembali kenangan yang tersembunyi. Namun tiada lagi benih untuk menumbuhkan kembali harapan.

Saya belajar untuk melepas harapan tentangmu, sekaligus belajar untuk melepasmu juga. Saya belajar untuk berhenti menanti. Mungkin hanya itu satu-satunya cara, yang mungkin menyakitkan bagi saya, juga kamu. Tapi itu demi kebebasanmu. Dengan begitu saya akan berhenti menyiksamu, tidak lagi menyudutkanmu dengan tuntutan, atau menempatkanmu pada posisi yang serba salah.

Mungkin saya telah membohongi diri sendiri dengan berkata ini. Hanya kamu yang paling tahu. Namun kali ini saya benar-benar harus melepasmu. Melepas harapan akan kamu. Saya lelah. Kamu juga. Maka saya akan berhenti sampai di sini. Demi kita berdua. Demi kamu. Mungkin juga demi menjaga hati agar saya tak lagi kecewa.

Pergi jauh darimu mungkin adalah jawabnya. Dan itu yang akan saya lakukan. Saya akan pergi dan tidak lagi mengganggumu dengan perasaan-perasaan saya. Saya akan pergi, bahkan mungkin dengan penyesalan dan penuh dengan pengandaian dalam benak. Tapi mungkin ini yang terbaik.

Saya pergi dan tidak ada lagi yang bisa membuat saya kembali. Tidak kamu, tidak siapapun. Berasabarlah. Tidak lama lagi, dan saya akan pergi. Selamanya. Ketika segalanya telah berakhir bagimu, carilah saya. Tapi saya tidak pernah tahu apakah saya masih sanggup untuk kembali. Ke mana arah hidup ini, kita tak pernah tahu.

Untuk saat ini, yang saya tahu hanyalah saya tengah belajar untuk melepasmu…

Atau bahkan mungkin sudah.

Iklan