Ekspresi

by Regina

Sering orang berkata saya ini Imagemanusia yang tidak ekspresif sama sekali. Tidak ekspresif maksudnya sulit bagi saya untuk menunjukkan secara nyata apa yang saya rasakan, entah itu dalam bentuk perbuatan atau kata-kata. Setidaknya itu yang ibu saya pernah katakan kepada saya. Saya kaku, nyaris seperti gagang sapu, katanya. Saya menyanggah ucapannya? Tidak juga. Saya akui bahwa saya ini orangnya kaku, apalagi jika sudah menyangkut affection terhadap orang-orang yang sangat penting dalam hidup saya. Kaku. Seperti gagang sapu.

Lain ibu, lain lagi teman-teman saya. Beberapa di antara mereka berpendapat saya ini manusia dengan ekspresi yang salah. Salah maksudnya sering kali ekspresi yang saya tunjukkan itu berbeda dengan apa yang tengah saya rasakan. Seperti ketika saya senang, saya memilih untuk diam. Atau ketika isi kepala saya sedang penuh-penuhnya dengan pelbagai masalah, atau di saat tengah sedih, saya malah lebih sering tertawa. Membuat lelucon konyol malah.

Mana yang sebenarnya menjadi sifat dan karakter saya? ‘Si Gagang Sapu’ ataukah ‘Si Manusia dengan Ekspresi yang Salah’? Mungkin saja keduanya. Entahlah. Sudah lama sekali saya berhenti memikirkannya. Setiap orang memiliki opininya masing-masing terhadap apapun yang saya lakukan. Tiada ada habisnya opini mereka itu. Bukan begitu?

***

“Aku senang,” katamu, “aku senang karena dengan keadaan kita temenan seperti sekarang ini, kamu jadi lebih banyak tertawa.”

Dan saya hanya tertawa kecil mendengar ucapanmu.

Ah, lagi-lagi ekspresi yang salah.

Iklan