Lubang di Hati

by Regina

chair-e5f723852353cf4bbed8feb9f8168580_hTerlahir di sebuah keluarga yang cukup berada, saya tidak pernah merasa kekurangan dalam hal materi. Saya sempat mengecap pendidikan di sekolah-sekolah terbaik, bahkan menamatkan gelar sarjana di sebuah universitas terkemuka di ibu kota. Mimpi saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri juga tercapai di tahun ini. Saya juga dikelilingi teman-teman yang selalu ada setiap kali saya membutuhkan mereka. Kalau dipikir-pikir, saya tidak pernah benar-benar kekurangan suatu pun.

Lantas apakah saya dikata berbahagia?

Belum tentu. Seharusnya saya merasa bahagia. Tapi kenyataannya, tidak.

Apakah saya kurang bersyukur?

Tidak juga. Saya selalu memanjatkan syukur yang berlimpah atas hidup saya setiap malam sebelum tidur. Namun tetap saja saya masih merasa ada sesuatu yang kurang. Serasa ada yang ganjal di hati saya. Hampa. Kosong.

Kenapa bisa begitu?

Jangan tanya saya karena saya sendiri tidak tahu.

Ketika seorang teman lama berkata bahwa dia tengah dimabuk asmara, saya pun merasa senang untuknya. Akhirnya dia menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama sendiri. Saya ingat dulu hampir setiap kali dia berkata, “I’m not into relationship anymore”, setelah putus dari kekasihnya bertahun-tahun silam. Tapi melihat dia yang sekarang, selalu berseri-seri.

Lalu saat saya menghadiri pernikahan seorang teman SMA, saya melihat wajahnya yang selalu tersenyum. Ada bahagia terpampang di wajahnya. Bahasa tubuhnya menunjukkan ia tengah jatuh cinta, mungkin untuk yang ke sekian kalinya, dengan suaminya. Saya pun ikut senang untuknya.

Dari dua kejadian itu saya pun sadar apa yang selama ini kurang. They found love. Sementara saya? Entahlah. Seolah ada lubang di hati. Bisa dikata saya sedang berada pada situasi seperti teman saya tadi; tidak ingin terlibat dengan masalah perasaan, apalagi cinta-cintaan. Mungkin itulah yang menciptakan rasa hampa. Mungkin saya sendiri yang membiarkan kekosongan itu berubah menjadi lubang.

Apakah masih tersisa harap?

Entah. Saya sedang berada pada titik di mana saya tidak ingin berharap untuk hal yang satu ini. Cukup sudah.

Pesimis?

Bisa jadi. Tapi saya lebih suka menyebutnya realistis.

Kenapa? Takut kecewa lagi?

Memangnya siapa yang tidak?

Lalu mau sampai kapan seperti ini?

Saya tidak tahu.

Kalau begitu akan selamanya lubang itu menganga?

Mungkin memang itu yang terbaik.

Iklan