2012

by Regina

Saya patah hati.

Nah, sebuah topik yang cukup tragis sebagai permulaan postingan setelah lama meninggalkan blog ini, ya? Sebenarnya tidak bermakusd menulis postingan seperti ini. Hanya saja malam ini saya tidak bisa tidur. Tadinya saya berpikir dengan blogwalking maka saya bisa terlelap. Eh, malah membuat mata semakin melek. Jadinya saya memutuskan untuk menulis lagi saja. Biasanya dengan menulis justru membuat kepala saya lega. Sedikit. Lalu bisa tidur.

Tahun 2012 merupakan tahun yang cukup berat bagi saya dan juga keluarga. Ibarat pertandingan tinju yang tak ada habis rondenya, seperti itulah kehidupan kami. Hujaman pukulan berdatangan dari segala arah, berbagai jurus pamungkas diluncurkan. Bertahan. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Menangkis setiap pukulan, setiap jurus. Jatuh, lalu bangun lagi. Tak lupa juga membutakan mata dan menulikan telinga dari omongan orang sekitar, namun tetap membuka hati demi suatu titik terang di ujung terowongan gelap.

Tahun 2012, nyaris sepanjang tahun itu keluarga kami dirundung masalah. Saya sendiri tidak hanya menghadapi masalah keluarga, namun juga masalah personal. Saya merasa kesepian dan terisolasi. Masalah demi masalah yang tak hentinya berdatangan membuat saya menutup pintu rapat-rapat, menghindari interaksi dengan manusia lain, bahkan dengan dunia maya sekalipun. Saya merasa risih dengan keramaian dan menghindari tempat-tempat publik.

Tidak hanya itu saja. Mengenai iman dan kepercayaan juga saya alami. Ditempa habis-habisan layaknya anak sekolahan yang dipelonco senior. Banyak hal yang membuka mata saya, bahwa segala yang berada di dunia ini sifatnya hanya sementara. Dan itu termasuk juga dengan hidup. Bahwa juga ada banyak hal-hal lain di dunia ini yang tadinya tidak saya tahu keberadaannya. Hal-hal yang di luar akal sehat saya, namun ternyata mereka nyata dan juga dialami oleh banyak orang lainnya.

Belajar. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan saya di tahun 2012. Ya, saya banyak belajar. Oleh karenanya saya mensyukuri atas segala sesuatu yang telah terjadi dan telah keluarga kami alami, juga mengenai masalah personal saya itu.

Lalu ada apa dengan patah hati? Iya, tahun 2013 ini diawali dengan aku yang patah hati. Seperti biasa, ini mengenai cinta. Tadinya saya tidak pernah menyangka bahwa saya bisa jatuh cinta dalam keadaan yang belum sepenuhnya membaik ini. Itu juga telat saya sadarnya. Bahkan ketika seorang teman saya bersikeras bahwa saya ini jatuh cinta, saya pun masih menolak. Denying. Baru di saat ketika jatuh saya tak bersambut, baru saya percaya bahwa saya telah patah hati. Keras kepala, ya?

Lantas bersedihkah saya? Sudah tentu. Meski saya membangun tembok setinggi surga, saya tetap masih memiliki perasaan. Terus apa yang saya lakukan? Sekali lagi mengisolasikan diri dengan tidak bersinggungan dengan dunia sosial. Tapi itu cukup terjadi hanya satu hari. Saya masih cukup waras untuk membatasi masa berkabung akibat matinya cinta dengan tidak berlama-lama menangis, meratap. Lagipula, mengenai cinta, masih akan ada jatuh dan patah yang selanjutnya. Ya, kan?

Adakah hikmah dari segala yang terjadi ini? Oh, banyak. Salah satunya saya katakan bahwa setiap kejadian yang terjadi itu pasti ada alasannya. Percayalah, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatunya adalah rencana-Nya. Setidaknya itu yang saya yakini. Kemudian bahwa hidup adalah tempaan bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik adalah apa yang saya percaya.

Dan mengenai cinta, secepat apapun ia jatuh, secepat apapun ia patah, tetaplah indah. Setidaknya itu yang saya rasakan, meski hanya singkat bagai intermezzo.

Iklan