Masih Ada

by Regina

Entah kapan terakhir kalinya ia merasakan kehidupan di sini. Panjang ingatannya tak lagi mampu menghitung lamanya waktu sejak kehidupan menghilang. Sudah terlalu lama. Namun meski waktu tak lagi terhitung, setiap kejadian, setiap kisah terpatri lekat dalam memorinya.

Ada banyak cerita yang hanya ia yang tahu. Cerita yang tak pernah sanggup sang empunya menceritakannya pada siapapun. Namun ia tahu, dan ia akan menyimpannya rapi untuk dirinya sendiri, hingga sang empunya siap berkata-kata.

Setiap kejadian, setiap kisah yang terjadi, ia tahu, membuat sinar kehidupan meredup bagaikan lilin yang perlahan ditiup. Sang empunya hidup, namun tidak benar-benar hidup. Ada, namun tidak benar-benar ada. Secara lahiriah sang empunya berdiam di sini, tapi tidak batiniah.

Dan tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri, mendengarkan dalam senyap setiap cerita sang empunya yang tak terkatakan, melihat dalam gelap setiap tetes air mata yang mengering, ikut merasakan dalam kesesakan sakit sang empunya yang tak terperi. Tapi di sinilah ia, dengan setia menaungi sang empunya, dengan sabar menunggu sang empunya kembali pulang.

Waktu berlalu, kehidupan perlahan kembali dirasa, terang kembali muncul. Kehidupan pun tak lagi enggan untuk mendekat. Ada keceriaan yang mulai terlihat di wajah sang empunya. Ya, sang empunya kembali hidup. Ada, dan benar-benar ada. Hidup, dan benar-benar hidup.

Impian, mimpi, dan harapan kembali dipanjatkan dalam setiap doa sang empunya. Tawa dan canda kembali terdengar. Cinta kembali bersemi. Ia pun ikut bersukacita. Dan ia tahu, bahwa suatu saat nanti penantian dan kesetiaannya akan mebuahkan hasil, karena sang empunya masih ada dan akan kembali pulang kepadanya, sang rumah.

Iklan