Where She Went

by Regina

Mia ternyata memilih untuk tinggal. Dan itu atas permintaan Adam, kekasihnya. Adam berjanji bahwa dia akan melakukan apa saja jika Mia hidup, bahkan apabila nantinya Mia menghendaki untuk meninggalkannya jika, dia rela. Dia akan melepaskan Mia.

Dan Mia melakukannya. Dia meninggalkan Adam dan melanjutkan sekolahnya di Juilliard, hingga menjadi seorang cellist profesional.

Jika “If I Stay” ditulis berdasar pada sudut pandang Mia, maka “Where She Went” ditulis berdasar pada sudut pandang Adam. Tiga tahun sudah setelah kepergian Mia, dan Adam berada dalam keadaan yang terluka. Meski grup band-nya, Shooting Star, kini telah naik pamor dan terkenal, Adam justru merasa semakin hancur.

Karakter Adam digambarkan sebagai karakter yang mengalami depresi, yang kalau menurut saya sedikit terkontaminasi “star syndrome,” alias paranoid jika dikerubungi fans. Kepergian Mia ternyata memberikan dampak yang begitu besar terhadapnya. Selama tiga tahun dia mencari jawaban kenapa Mia meninggalkannya tanpa satu kata perpisahan pun.

Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali. Bagi Mia, pertemuan mereka itu merupakan akhir dari hubungannya dengan Adam, bahwa Mia hanya memenuhi permintaan Adam sesaat sebelum dia sadar dari keadaan koma. Sedangkan Adam sendiri masih mempertanyakan kepergian Mia.

Saya lebih suka dengan “If I Stay” dibandingkan buku yang keduanya ini. Namun ending-nya yang ciamik cukup menghibur pembacanya. Saya beri buku ini 4/5.

Iklan