If I Stay

by Regina

Bagaimana jika seandainya kau terjebak antara hidup dan mati? Pilihan mana yang akan kau ambil: Hidup namun kau telah kehilangan segalanya, atau mati dan ikut bersama orang-orang yang kau sayangi?

Mia memiliki segalanya; orang tua yang penuh pengertian dan kasih sayang, adik laki-laki berusia 8 tahun yang imut, seorang sahabat setia, dan seorang kekasih yang penuh cinta. Di usianya yang ketujuh belas, Mia merupakan seorang cellist berbakat dari Oregon dan memiliki masa depan cemerlang saat dia diterima di sebuah sekolah musik ternama, Juilliard.

Namun sebuah kecelakaan yang menimpa Mia dan keluarganya membuat dia harus kehilangan orangtua dan adiknya dalam sekejap. Mia berada dalam keadaan koma dan selama itu dia melihat semua kejadian yang menimpa dirinya. Seperti hantu, dia berada di dunia tapi tidak benar-benar hidup. Dan selama itu, semua kenangan-kenangan indah akan keluarga, sahabat dan kekasihnya menghiasi kisah dalam buku ini – yang juga nantinya menjadi bagian dalam keputusan Mia. Akankah dia bertahan hidup atau mengikuti keluarganya?

Saya suka semuanya dari buku ini; desain cover-nya, alur ceritanya, karakter-karaktermya, gaya penulisannya. Pokoknya semua hal dari buku ini saya suka. Beruntung saya masih bisa memperoleh edisi paperback berbahasa Inggris, meski harus menunggu hampir satu bulan lamanya saat pemesanan melalui Kinokuniya.

Saya menangis dan tertawa, saya sedih dan bahagia saat membaca buku ini. Sejak awal saya sudah jatuh cinta dengan karakter Mia. Dan hubungan cintanya dengan Adam benar-benar mengharukan, jika boleh dibilang terasa nyata. Persahabatan Mia dan Kim membuat saya merindukan sahabat-sahabat saya. Hubungan Mia dan keluarganya membuat saya ingin selalu dekat dengan keluarga saya.

Saya tipe pembaca yang senang dengan cerita fantasi yang penuh ketegangan. Namun tidak menutup kemungkinan saya bisa menyukai cerita fiksi drama yang memberikan ketenangan tanpa membuat saya terburu-buru ingin segera membalik halaman selanjutnya. Dan buku ini salah satu favorit saya. Menenangkan tapi penuh dengan gejolak emosi. Itu saya suka. Saya menyukai gaya penulisan Gayle Forman, dan dipastikan saya akan membaca buku-bukunya yang lain.

Dan, oh, nantinya buku ini akan diangkat dalam film layar lebar. Tidak sabar saya menanti. Sekarang saya sedang membaca sekuelnya, “Where She Went,” yang tak kalah bagusnya. Segera review-nya.

Iklan