Kala Usia Tidak Lagi Kanak-kanak

by Regina

Beberapa hari yang lalu, saya menemani seorang teman pergi menjemput anak perempuannya di sebuah Taman Kanak-kanak. Hari itu langit cerah setelah selang beberapa waktu hujan terus mengguyur kota tempat saya tinggal. Matahari bersinar tanpa malu-malu, seolah ingin membalas dendam setelah beberapa hari tertutup awan kelabu. Sinarnya terik dan menyengat kulit. Namun bagi anak-anak yang berusia 4 – 5 tahun ini, cuaca yang panas seperti itu malah menambah semangat bermain mereka.

Saat kami tiba, pelajaran telah selesai dan anak-anak sudah berada di halaman sekolah, menunggu jemputannya masing-masing. Mereka bergabung dalam kelompok-kelompok; ada sekumpulan anak yang berkerumun memerhatikan seorang temannya memamerkan mainan barunya, ada kelompok penyanyi cilik yang penuh percaya diri bernyanyi – meskipun nyanyiannya lebih menyerupai teriakan khas anak kecil, dan ada juga yang memilih bermain ayunan, perosotan, dan berbagai macam permainan lainnya. Semuanya bersuka ria, penuh canda tawa.

Teman saya menghampiri anaknya yang sedang bermain perosotan. Dari kejauhan saya melihat anaknya yang sedang asyik berseluncur di perosotan. Dia meluncur, naik lagi melalui tangga, lalu meluncur lagi. Tak kenal lelah. Wajahnya berseri-seri, tangannya terangkat dan dia berteriak kegirangan ketika meluncur. Tidak memedulikan keringat yang mulai membasahi bajunya, tidak peduli jika nanti dia diomeli mamanya karena membuat seragamnya kotor.

Saya tersenyum saat melihat adegan di depan saya. Sekilas teringat akan masa kanak-kanak. Ingin rasanya kembali menjadi anak-anak, kembali ke masa ketika hidup hanya dipenuhi kesenangan ala anak kecil; bermain, bermain dan bermain. Tapi hidup selalu berjalan maju, jarum jam berputar ke arah kanan. Usia bertambah seiring berjalannya waktu. Kedewasaan mutlak dimiliki, membuat pemahaman akan hidup semakin luas. Permasalahan yang dihadapi pun tidak hanya seputar malas bangun pagi dan enggan ke sekolah, atau ngompol saat tidur.

Ketika usia bertambah, hal-hal dalam hidup pun tidak hanya diwarnai hitam dan putih, namun juga abu-abu. Pilihan harus ditentukan, bukit harus didaki, jalan berliku harus dilewati agar kehidupan terus berlangsung. Saat tersandung dan jatuh, tak bisa lagi merengek. Namun siang itu, saya memperoleh sebuah pelajaran: nikmati hidup seperti seperti anak kecil menikmati permainannya, sebesar apapun masalah yang dihadapi. Karena hidup tidak selamanya indah, juga tidak selamanya sulit.

Iklan