Korespondensi: Hobi yang Mulai Terlupakan

by Regina

Sebuah friend request masuk di Facebook saya. Dengan satu dua klik maka bertambah satu lagi teman saya di FB. Dia adalah teman koresponden saya. Dulu kami sering berkorespondensi dan dari situlah kami saling mengenal satu sama lain.

Dulu saya hobi berkoresponden. Saya mendapat banyak teman dari kegiatan tersebut. Mulai dari Filipina, Vietnam, Singapura, India, sampai dari Amerika. Bahkan pernah satu kali saya menerima sebuah surat yang di amplopnya ada cap yang bertuliskan “Missent to Malaysia.” Surat itu datang dari salah satu kota di benua Afrika. Mungkin saking jauhnya, orang-orang di kantor pos sana tidak pernah mendengar nama Indonesia. Mereka tahunya Malaysia.

Namun kini hobi itu mulai terlupakan. Sebenarnya bukan terlupakan, tapi tergantikan. Surat-menyurat sudah bukan zamannya lagi ketika teknologi internet semakin canggih dan membuat surat-menyurat tergantikan oleh e-mail.

Saya sapa dia di wall-nya, sekedar menanyakan kabar dan menanyakan apakah dia masih sering berkoresponden. Balasnya, “Why wasting time writing a letter when I could just type it and with one click, the message is sent, and you can receive it in no time?”

Kata teman saya itu ada benarnya juga. Dengan e-mail segalanya jadi lebih mudah dan cepat. Pertukaran informasi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja dalam waktu singkat. Sekarang malah sudah ada Facebook yang memungkinkan kita bisa saling mengirim dan menerima informasi dengan super cepat. Cukup saling menyapa melalui wall atau saling mengirimkan pesan.

Berbeda jika harus menulis surat dan mengirimkannya lewat pos. Butuh waktu yang lama agar surat itu bisa tiba ke penerima, apalagi kalau harus melewati benua. Bisa-bisa dibutuhkan waktu hampir satu bulan. Ditambah lagi dengan semakin bertambahnya aktivitas, membuat kita tidak memiliki waktu untuk menulis surat dan membawanya ke kantor pos. Terkadang menulis e-mail saja suka malas karena kelelahan.

Tetapi ada perbedaan antara korespondensi melalui surat dan e-mail. Buat saya pribadi, ada kesan tersendiri ketika menulis sebuah surat. Melalui surat saya bisa menerka-nerka bagaimana kepribadia seseorang ketika melihat tulisan tangan si pengirim. Salah seorang teman koresponden saya memiliki tulisan tangan yang sangat indah! Sungguh, saya terkagum-kagum ketika melihat tulisan tangannya. Tulisannya hampir mirip dengan jenis font Monotype Corsiva di MS Word.

Saya masih ingat hari-hari ketika saya menunggu kedatangan Pak Pos yang membawa surat untuk saya. Saya selalu melonjak kegirangan ketika mendengar suara motor Pak Pos di depan rumah. Dan hati saya selalu berdebar-debar karena gembira ketika menerima amplop yang bertuliskan nama saya. Saya masih ingat saat-saat di mana saya tersenyum dan ikut bahagia ketika membaca kabar baik yang mereka sampaikan, dan ikut bersedih ketika mereka menuliskan sebuah kabar buruk.  Saya masih bisa mengingat bagaimana antusiasnya saya ketika membalas surat mereka satu per satu.

Rasanya sungguh jauh berbeda jika membaca kabar-kabar tersebut dengan melihat tulisan tangan dibandingkan dengan membaca pesan dengan huruf-huruf yang kaku melalui e-mail. Ya, sekarang e-mail memang sudah bisa dimodifkasi, diberi hiasan ini dan itu. Tapi tetap saja berbeda.

Kalau ditanya “Apa kamu masih senang berkorespondensi?”, maka saya akan menjawab, “Iya,” meskipun sekarang sudah zamannya e-mail dan Facebook.

Iklan