Perempuan Dalam Sinetron

by Regina

Terkadang saat sedang berada di rumah saya menghabiskan malam dengan menonton televisi. Melepas penat setelah bekerja seharian. Terkadang itu juga saya iseng menonton sinetron. Ya, yang saya tonton juga hanya sepenggal-sepenggal saja di sela-sela iklan dari program yang tengah saya ikuti.

Begini, saya bukannya tidak menghargai hasil karya kreatifitas anak bangsa. Bukan pula saya tidak mencintai film-film dalam negeri. Bukan pula saya menghina sinetron. Hanya saja ceritanya sungguh jauh di luar akal sehat saya. Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ceritanya.

Beberapa hal yang selalu ada dalam sebuah sinetron: peran antagonis yang kejamnya minta ampun dan peran protagonis yang lemahnya bukan main. Kedua peran itu biasanya diperankan oleh artis perempuan. Sungguh dua hal yang sangat bertolak belakang yang membuat orang-orang menggandrungi ceritanya.

Saya bilang ceritanya sering tidak masuk akal bukan tanpa alasan. Peran antagonis perempuan biasanya galak dan kejam dan selalu rela melakukan apa saja demi mendapatkan lelaki yang dicintainya. Selalu saja menghalalkan segala cara yang super licik. Sungguh tidak habis pikir. Serendah itukah harga diri seorang perempuan?

Bagaimana dengan peran protagonis perempuan? Nah, kalau yang tadi super galak dan kejam, kalau peran yang ini biasanya sudah kelewatan baik sampai-sampai rela ditindas. Karakter protagonis perempuan biasanya melankolis dan menye-menye yang selalu lemah dan terkadang malah mengasihani diri sendiri.

Ya ya, saya tahu ini hanyalah cerita dalam sinetron. Tapi setidaknya buatlah karakter perempuan yang bisa menjadi contoh yang baik bagi seluruh kaum perempuan. Dan satu lagi, temanya tidak melulu perebutan cinta atau harta. Apalagi sekarang belakangan dalam sinetron suka ada karakter seorang ibu yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang pilihannya. Aduh, ini kan sudah bukan zaman Siti Nurbaya lagi, pakai acara jodoh-jodohan atau kawin paksa.

“Justru cerita yang menurut lo aneh bin ajaib itu yang paling digandrungi ibu-ibu dan anak-anak remaja, Regy.”

Ah, kalau sudah berurusan dengan rating, saya menyerah. Ceritanya dan tokoh-tokohnya jadi begitu karena ada permintaan dan minat masyarakat. Jadi mana yang seharusnya diperbaiki? Sinetronnya atau masyarakatnya? Entahlah.

Iklan