Rumah Regina

"Home is where the heart can laugh without shyness. Home is where the heart's tears can dry at their own pace."

Melepas Harapan

ImageHidup tanpa harapan sama saja seperti mati. Begitu kata orang kepada saya. Saya bukannya tidak punya harapan sama sekali dalam diri. Saya masih punya itu. Hanya saja sekarang saya belajar untuk memilah mana harapan yang bisa saya pertahankan dan perjuangkan, dan mana yang harus saya kubur dalam-dalam.

Kamu. Adalah harapan yang tidak bisa saya pertahankan. Dengan berat hati harus saya kunci rapat dalam kotak pandora dan saya letakkan di tepian hati. Sewaktu-waktu akan saya buka demi untuk melihat kembali kenangan yang tersembunyi. Namun tiada lagi benih untuk menumbuhkan kembali harapan.

Saya belajar untuk melepas harapan tentangmu, sekaligus belajar untuk melepasmu juga. Saya belajar untuk berhenti menanti. Mungkin hanya itu satu-satunya cara, yang mungkin menyakitkan bagi saya, juga kamu. Tapi itu demi kebebasanmu. Dengan begitu saya akan berhenti menyiksamu, tidak lagi menyudutkanmu dengan tuntutan, atau menempatkanmu pada posisi yang serba salah.

Baca entri selengkapnya »

Siapa Saya Bagimu

life-coach1Kian kemari, kian sering saya bertanya siapa saya sebenarnya bagimu. Kamu adalah teman spesial, katamu. Entah apa maksudmu. Tapi saya terima saja katamu itu. Teman spesial masih jauh lebih baik dibandingkan bukan siapa-siapa.

Entahlah… Apakah saya benar-benar ingin menjadi teman spesialmu? Sungguh, akal sehat saya belakangan ini sering tidak berfungsi sebagaimana biasanya. Mungkin memang sebaiknya itulah saya bagimu.

Seandainya, seandainya ada kesempatan saya bisa menjadi lebih dari sekedar teman, lebih dari spesial bagimu, akankah saya menginginkannya? Lagi-lagi saya tidak tahu. Saat ini saya tidak tahu lagi apa yang saya inginkan.

Satu yang saya tahu, saya tidak akan lagi meminta hatimu. Kamu membuat segalanya jelas, bahwa kamu tidak bisa memberikan hatimu sekarang. Mungkin nanti. Maka saya pun tak akan memintanya, sekarang ataupun nanti.

Biarlah saya menjadi teman spesialmu… selalu, selamanya. Saya mungkin belum rela. Tapi biarlah seperti itu. Karena mungkin takdir hanya menetapkan kita sampai di situ saja.

Teman.

Spesial.

Tidak bisa lebih.

Tidak akan pernah.

Ekspresi

Sering orang berkata saya ini Imagemanusia yang tidak ekspresif sama sekali. Tidak ekspresif maksudnya sulit bagi saya untuk menunjukkan secara nyata apa yang saya rasakan, entah itu dalam bentuk perbuatan atau kata-kata. Setidaknya itu yang ibu saya pernah katakan kepada saya. Saya kaku, nyaris seperti gagang sapu, katanya. Saya menyanggah ucapannya? Tidak juga. Saya akui bahwa saya ini orangnya kaku, apalagi jika sudah menyangkut affection terhadap orang-orang yang sangat penting dalam hidup saya. Kaku. Seperti gagang sapu.

Lain ibu, lain lagi teman-teman saya. Beberapa di antara mereka berpendapat saya ini manusia dengan ekspresi yang salah. Salah maksudnya sering kali ekspresi yang saya tunjukkan itu berbeda dengan apa yang tengah saya rasakan. Seperti ketika saya senang, saya memilih untuk diam. Atau ketika isi kepala saya sedang penuh-penuhnya dengan pelbagai masalah, atau di saat tengah sedih, saya malah lebih sering tertawa. Membuat lelucon konyol malah.

Baca entri selengkapnya »

Lubang di Hati

chair-e5f723852353cf4bbed8feb9f8168580_hTerlahir di sebuah keluarga yang cukup berada, saya tidak pernah merasa kekurangan dalam hal materi. Saya sempat mengecap pendidikan di sekolah-sekolah terbaik, bahkan menamatkan gelar sarjana di sebuah universitas terkemuka di ibu kota. Mimpi saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri juga tercapai di tahun ini. Saya juga dikelilingi teman-teman yang selalu ada setiap kali saya membutuhkan mereka. Kalau dipikir-pikir, saya tidak pernah benar-benar kekurangan suatu pun.

Lantas apakah saya dikata berbahagia?

Belum tentu. Seharusnya saya merasa bahagia. Tapi kenyataannya, tidak.

Apakah saya kurang bersyukur?

Tidak juga. Saya selalu memanjatkan syukur yang berlimpah atas hidup saya setiap malam sebelum tidur. Namun tetap saja saya masih merasa ada sesuatu yang kurang. Serasa ada yang ganjal di hati saya. Hampa. Kosong.

Baca entri selengkapnya »

2012

Saya patah hati.

Nah, sebuah topik yang cukup tragis sebagai permulaan postingan setelah lama meninggalkan blog ini, ya? Sebenarnya tidak bermakusd menulis postingan seperti ini. Hanya saja malam ini saya tidak bisa tidur. Tadinya saya berpikir dengan blogwalking maka saya bisa terlelap. Eh, malah membuat mata semakin melek. Jadinya saya memutuskan untuk menulis lagi saja. Biasanya dengan menulis justru membuat kepala saya lega. Sedikit. Lalu bisa tidur.

Tahun 2012 merupakan tahun yang cukup berat bagi saya dan juga keluarga. Ibarat pertandingan tinju yang tak ada habis rondenya, seperti itulah kehidupan kami. Hujaman pukulan berdatangan dari segala arah, berbagai jurus pamungkas diluncurkan. Bertahan. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Menangkis setiap pukulan, setiap jurus. Jatuh, lalu bangun lagi. Tak lupa juga membutakan mata dan menulikan telinga dari omongan orang sekitar, namun tetap membuka hati demi suatu titik terang di ujung terowongan gelap.

Baca entri selengkapnya »